Subscribe to Zinmag Tribune
Subscribe to Zinmag Tribune
Subscribe to Zinmag Tribune by mail

Ota Benga dari Suku Pigmi, Kongo, ditangkap sejumlah ilmuwan tahun 1904 dan ditempatkan di kebun binatang, karena disangka jenis manusia purba setengah kera. Dan, lukisan imajinasi manusia purba


Melacak jejak orang Sasak (Lombok, NTB) masa purba dari catatan fosil (paleontologi) adalah usaha yang amat sukar karena hampir seluruhnya meragukan. Banyak fosil yang disangka manusia purba, belakangan ini diketahui telah dipalsukan atau ditambal dengan kerangka babi atau kera yang sudah punah. Tidak ada fakta ilmiah yang bisa digunakan untuk membenarkan bahwa manusia berasal dari bangsa kera. Tidak ada yang bisa membuktikan adanya peralihan hewan sejenis kera menjadi ras manusia, terutama pada aspek morfologis dan tahapannya.
Bukti-bukti baru justeru menjungkirbalikkan anggapan kita selama tentang asal usul manusia. Australopithecus yang disebut sebagai jenis manusia pertama yang bisa berjalan tegak (bipedal) ternyata adalah spesies kera yang sudah punah dan tidak bipedal, sebagaimana hasil penelitian selama 15 tahun oleh dua ahli anatomi, Lord Solly Zuckerman dan Prof Charles Oxnard. Sedangkan fosil Homo erectus yang dikatakan sebagai manusia setengah kera, ternyata adalah manusia seutuhnya sama seperti kita.
Selama ini kita tertipu dengan pendapat ahli yang mengelompokkan Homo erectus sebagai manusia setengah kera hanya lantaran kapasitas tengkorak yang kecil yakni 900-1.100 cc dan alis mata yang tebal menonjol. Padahal, hingga saat ini banyak orang yang memunyai kapasitas otak sekecil itu seperti masyarakat Suku Pigmi di Republik Kongo. Hingga saat ini pun suku-suku asli di Australia memiliki alis mata yang tebal menonjol. Lagipula, para ahli berkesimpulan bahwa tingkat kecerdasan bukan ditentukan dari kapasitas tengkorak, melainkan oleh susunan otak.
Penemuan fosil Homo erectus yang paling mengejutkan adalah fosil Turkana Boy (anak laki-laki dari Turkana) di dekat Kenya yang diperkirakan sudah berumur 1,7 juta tahun. Fosil itu dipercaya sebagai kerangka anak laki-laki berusia 12 tahun yang saat dewasa mencapai tinggi 1,83 meter. Sama sekali tidak ada perbedaannya dengan manusia modern karena tidak tampak seperti kera. Penemuan ini segera meruntuhkan pendapat sebagian ahli yang beranggapan bahwa pada masa 2,9 juta tahun lalu manusia masih berbentuk hominidae (siamang besar) dan membutuhkan waktu puluhan juta tahun lagi untuk menjadi Homo erectus.
Bukti-bukti lain muncul. Tahun 1977, ahli paleontologi, Mary Leakey, menemukan dua puluh jejak kaki Homo sapiens berusia 10 tahun dan 27 jejak kaki lainnya yang berusia lebih muda. Semuanya tanpa alas kaki dan diperkirakan berasal dari 3,6 juta tahun lalu. Bukti ini kembali menegaskan bahwa manusia sudah menjadi manusia justeru saat sebagian ahli beranggapan bahwa pada 2,9 juta tahun yang lalu, manusia masih berbentuk simpanse besar.
Dengan demikian, menelusuri jejak orang Sasak Purba tidak boleh terburu-buru hanya dengan berdasarkan pada penemuan paleontologi (fosil). Bukti-bukti fosil saja tentu tidak bisa diterima, harus ditunjang pula dengan bukti-bukti arkeologi (penemuan artefak) dari masa yang sezaman dengan fosil tersebut. Meskipun, keduanya belum cukup menjadi landasan untuk memastikan keberadaan manusia-manusia purba yang mendiami Pulau Lombok. (Bersambung)
2 Responses
  1. G Says:

    Malayan Proto itu sama dengan Melayu Tua ya? Saya sudah lupa istilah2nya karena sudah lama sekali kayaknya belajar antropologi, kelas berapa ya? Lupa deh, hehehe.. Tapi ingat yg menyatakan bhw sebagian suku di Indonesia konon merupakan imigran dari daerah Yunan dataran China ataukah Mongolia itu?


  2. Sejujurnya, saya masih mencari sumber-sumber sejarah yang bisa ngejelasin asal usul orang Lombok (Suku Sasak) karena saya ragu kalo orang Sasak berasal dari Yunnan Utara. Sangat boleh jadi, LOmbok sudah dihuni ratusan ribu tahun sebelum orang-orang Malayan Proto dari Yunnan Utara (Tiongkok), dataran BEnua Asia, masuk ke Nusantara. Jangan-jangan, manusia Lombok sudah ada saat zaman es mencair yang memisahkan Asia dengan Australia. Sangat Boleh Jadi Kan?


Posting Komentar

Boleh komentar apa aja asalkan sesuai nilai-nilai agama dan Pancasila